BERBAGI KATA, BERBAGI RASA, BERBAGI CERITA

Senin, 16 Mei 2011

DUALISME MASA YANG TUMBUH BERDAMPINGAN (SOLO, ANTARA TRADISI DAN MODERNISASI)

Solo, kota mungil yang sarat akan budaya dan menjadi bagian dari sejarah bangsa. Tak akan pernah kehabisan kata untuk melukiskannya dalam suatu warna. Ya. Solo memang berwarna. Dan warna ini akan diuraikan dalam berbagai spektrum warna yang indah dalam tulisan ini. Mari kita simak.


Solo Riwayatmoe Doloe

Menjejakkan kaki di kota para pandawa ini, kita akan diajak kembali menyelami kisah sejarah masa silam. Surakarta Hadiningrat, kota yang memisahkan diri dari kasultanan Jogja ini kian kokoh berdiri. Bukan karena kekuatan Ki Ageng Semar yang gigih memimpin para punakawan. Tapi karena keampuhan perjuangan rakyat Solo yang tak kenal lelah. Adu domba VOC akhirnya menelurkan Perjanjian tertulis. Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 menyebabkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi 2, Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Sunan Pakubuwana III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sultan Hamengkubuono I. Dan perpecahan juga terjadi di wilayah kerajaan Surakarta Hadiningrat. Di Solo berdiri dua keraton: Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, menjadikan kota Solo sebagai kota dengan dua administrasi.

Solo Kota Seniman
Slogan Solo kota budaya pun disandang bagaikan mahkota Yudhistira yang memimpin Astina. Tebukti ketika keanekaragaman budaya yang diilhami dari hasil-hasil karya para Empu pada masa itu. Dan kini kota Solo tumbuh menjadi centra budaya Jawa yang diunggulkan. Tak hanya kontribusi Pak Gesang yang mengantarkan Bengawan Solo ke Jepang. Tapi Bu Waljinah pun dengan bangganya terbang bersama Walang Kekek-nya. Semua sandiwara dunia ini pun kian menarik karena ramuan hebat dari Pak Anom Suroto dan Ki Joko Edan.

Predikat kota seniman memang pantas disandang kota Solo. Seniman dan seniwati memiliki gemulai tubuh yang indah, dirangkaikan dalam suatu gerak ritmis nan dinamis oleh gadis-gadis manis. Tari Gambyong dipentaskan untuk menyambut kedatangan tamu agung, tari Merak, tari Bondan, dan tari Bedhaya Ketawang yang khusus ditampilkan di Ndalem Keraton. Konon tari Bedhaya Ketawang ini adalah salah satu tarian magis. Dari 9 penari yang menarikan tari Bedhaya, 8 penari diantaranya diperankan oleh putri-putri yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dari keraton dan seorang penari gaib yang dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul.
Dunia pun mengakui. Kota Solo adalah kota seniman sejati. Tiga hakekat seni yakni, cipta, rasa, dan karsa dipandang sebagai suatu hal yang tak terpisahkan. Mereka -seniman- mampu meracik 3 hal itu menjadi helaian Parang Garuda, Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, Wahyu Temurun dengan indahnya. Kami -rakyat Solo- dengan bangga mengenakannya sebagai suatu bagian dari sejarah penting hidup kami. Semakin berkembang, Solo menghadirkan festival Solo Batik Carnival sebagai wadah bagi seniman-seniman canting yang kaya inovasi. Setiap tahun SBC digelar dan kala itu juga sukses diraih. Melalang buana hingga ke festival Internasional, duta SBC mengharumkan kota Solo di Chingay Festival in Singapore dan Den Haag, Netherlands.

Perjalanan terus berlanjut. Menyusuri jalan di pusat keramaian di sepanjang situs-situs bersejarah. Letak Kraton Solo sengaja dibangun berdekatan dengan Alun-alun Utara, maupun selatan, serta Masjid Agung dan juga pusat belanja, Pasar Klewer. Tata letak ini adalah warisan ketika kota Solo menjadi bagian dari Kerajaan Mataram. Pada masa kerajaan Hindhu, tata letak dibuat sedemikian rupa agar mempermudah kegiatan di istana kerajaan.

Dua Masa yang Saling Berdampingan
Melihat lebih dalam, Museum Radyapustaka dan Monumen pers menjadi suatu simbol perwujudan dua masa yang dapat hidup berdampingan. Masa lampau yang menjungjung tinggi adat istiadat dan masa modern dengan kemajuan IPTEK.
Dalam era modern ini kota Solo tumbuh dan berkembang menjadi pusat kota. Adanya city walk, Solo Paragon, Mall-mall, dan pusat perbelanjaan serta tak ketinggalan majunya alat transportasi. BST (Batik Solo Trans) maupun bus tingkat Werkudoro menjadi pelengkap yang pas di kota Solo.
Namun, di sisi lain masyarakat Solo masih memegang teguh adat istiadat warisan leluhur. Tata etika kraton sebagai centra pengembangan adat Jawa menjadi suatu bukti nyata, bahwa tradisi masih tetap eksis. Kehidupan masyarakat keraton masih berpegang teguh pada adat istiadat kerajaan. Solah bawa (pembawaan) masyarakat keraton yang sopan, santun, ramah-tamah (grapyak) mampu memberikan image positif, bahwa masyarakat Solo adalah masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Mengilhami pembawaan putri keraton yang anggun dan beretika memberikan pengaruh terhadap masyarakat Solo secara keseluruhan.

Sunan Kaliaga dipandang sebagai tokoh yang berjasa bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Solo. Penggabungan dua budaya, yakni Islam dengan tradisi setempat menghasilkan budaya-budaya yang unik. Sebagai contoh wayang kulit, upacara adat grebeg, tradisi sekaten, kirab pusaka, dan kirab kebo bule. Keseluruhannya merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan budaya masyarakat setempat kala itu.
Wayang Kulit
Seperangkat pagelaran wayang kulit beserta gamelan dan parogonya, menjadi satu media untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Selain itu dalam kisah-kisah yang diperankan tokoh wayang, meliki pesan-pesan nasehat kehidupan maupun sebagai wujud kritik sosial.
Upacara Grebeg
Upacara Grebeg diadakan tiga kali dalam setahun, pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan hari besar agama Islam, yakni Garebeg Syawal, Garebeg Maulud, dan Garebeg Besar. Dalam upacara grebeg ini juga akan diarag gunungan yang akan diperebutkan warga. Mereka meyakini bahwa dengan menyimpan bagian dari gunungan itu, mampu memberikan kelancaran bagi usaha mereka.
Peringatan Malam 1 Suro
 
Perayaan Tahun Baru menurut Kalender Jawa. Malam 1 Suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terkahir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Mangkunegaran dilakukan jamasan (pencucian) benda pusaka, kemudian dikirabkan keliling Pura Mangkunegaran.Di Keraton Surakarta, ritual 1 Sura juga dilakukan kirab benda-benda pusaka mengelilingi Benteng Keraton pada dini hari tanggal 8. Yang menarik adalah ikut sertanya beberapa kebo bule (kerbau albino) sebagai cucuk lampah (yagn mengawali rombongan peserta kirab).

Ini adalah suatu keajaiban besar di kota kecil. Keajaiban besar ketika dalam suatu peradaban yang maju dengan segala pernik tradisinya, suatu masyarakat masih tetap kukuh menjaga bahkan melestarikan budaya leluhurnya. Berguru pada Jepang yang berkembang menjadi kiblat teknologi tapi tidak meninggalkan tradisi. Kota Solo perlu meniru Jepang dalam hal ini. Kaum muda Jepang amat bangga menggunakan pakaian adatnya, menarikan tarian tradisinya, dan melestarikan upacara-upacara adatnya. Alangkah lebih baik kaum muda Solo memiliki semangat besar seperti kaum muda Jepang. Mari kita kenakan batik, mari kita gunakan BST dan mari kita kunjungi ikon wisata Solo.


1 komentar:

  1. Teruskan gan...
    numpang share ya: http://0sprey.wordpress.com

    keep blogging... :D

    BalasHapus